Jumat, 18 Oktober 2013

Hadits: Sodomi Terhadap Istri Tidak Diperbolehkan

Bismillahirrohmaanirrohim
Sodomi adalah sebuah penyimpangan seksual menyetubuhi melalui dubur. Apa Hukum Sodomi terhadap istri sendiri menurut agama islam? Dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, "Allah Azza wa Jalla tidak akan melihat kepada seorang laki-laki yang menyetubuhi istrinya melalui duburnya." (Hadits riwayat Baihaqi)

Dari Ibnu Abbas radhiyallaahu 'anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda,

islam+dan+sodomi"Allah tidak akan melihat seorang laki-laki yang mendatangi laki-laki atau mendatangi perempuan melalui duburnya." (Hadits riwayat At-Turmudzi).

Hal itu diungkapkan agar kamu dapat melihat bagaimana agama Islam memuliakan dan menjaga perasaan kaum perempuan, dan juga agar kamu dapat mengetahui bagaimana agama Yahudi menjadikan perempuan sebagai seorang yang sia-sia tidak ada nilainya sama sekali.

islam+dan+sodomi
Seperti apa yang dikatakan A1 Hakham Yahana, "Sesungguhnya, melakukan sodomi dengan istri itu tidak diperbolehkan. Dia memaparkan hal itu dengan dua pendapat: Sesungguhnya, hukum syar'i tidak mengharamkan hal ini. Bahkan dia mengatakan, ajaran Yahudi tidak menyalahkan orang melakukan sodomi, meskipun berbuat bersama istrinya dengan cara apapun, karena sudah adanya ikatan perkawinan. Dan istri baginya berkaitan dengan masalah bersenang-senang dengannya tak ubahnya seperti sepotong daging yang dibeli dari penjual daging di pasar dan kemudian dia dapat memakannya, mungkin memakannya dengan direbus atau dipanggang sesuai dengan seleranya."

Rabu, 16 Oktober 2013

Alasan Dilarang Menaruh Handphone di Saku Celana

Bismillahirrohmaanirrohim



Siapa yang tidak kenal dengan nama yang satu ini. sekarang handphone sudah menjadi kebutuhan primer bagi kaum muda bahkan kalangan anak-anak sudah bisa memakai handphone layaknya orang dewasa.
(sedikit curhat) Admin dulu waktu pertama kali punya handphone ( ber antena dan layar hitam putih, kalau ada SMS mesti nunggu kata-kata yang ada di SMS itu jalan sendiri baru bisa dibaca) kelas 1 SMA, itu juga 1 handphone untuk sekeluarga ( 7 Orang). Ga kebayang dulu rasanya gimana, ada dengar suara handphone bukan cuma satu yang datang tapi 3 atau 4 orang..hehehe…maklum dulu masih gaptek-gapteknya teknologi, jadi 1 handhone bisa jadi rebutan sekeluarga, bahkan bisa satu desa. :) Tapi sekarang tidak seperti dulu lagi, kalau dulu 1 Handphone untuk 7 orang, sekarang 1 orang bisa bawa 3 sampai 4 Handphone.
Sesuai judul diatas, admin akan menjelaskan mengapa kita tidak boleh menaruh Handphone di saku celana?
Yang Pertama (Pria): Tahukah kamu kalau handphone itu menghasilkan radiasi yang sangat besar apalagi sewaktu baterai tinggal sedikit?

Handphone walaupun tidak menerima panggilan telephon atau pesan singkat, dia akan terus menghasilkan paparan medan elektrostatik & elektromagnetik yang sangat tinggi.
Apa hubungannya dengan saku celana kita? (pertanyaan yang bagus)

berikut jawabnya: ketika handphone ditaruh dalam saku celana dan berdekatan dengan (maaf) alat kelamin (khusus pria), sinar radiasi yang berada pada handphone ini akan diserap oleh sel-sel sperma yang berada pada tubuh kita. Radiasi inilah yang dapat membuat sel sperma kita menjadi tidak normal lagi atau dengan kata lain sulit mencapai sel telur.

Ketika handphone tersebut menyala, maka radiasi handphone menimbulkan hawa panas yang mengeluarkan frekuensi tinggi yang dapat menyerap sel-sel tubuh kita sehingga sel-sel yang ada didalam tubuh meningkat pula, akibatnya sel sperma tidak produktif lagi.

Yang Kedua (Wanita): Ada yang tahu bahaya untuk wanita menaruh handphone disaku?

“Wanita kan tidak punya sel sperma, jadi tidak apa-apa menaruh handphone dicelana”. hehehe… Sebenarnya ini pernyataan benar juga, admin sempat bingung menulis untuk yang wanita. Selidik punya selidik ternyata wanita kerap sekali mengabaikan hal-hal yang kecil, walaupun itu sekedar mengantungi sebuah handphone. Sebelum melanjutkan untuk yang wanita marilah kita sejenak melakukan eksperimen, berikut bahan-bahannya:
1. 1 Telur segar
2. 2 handphone (yang pastinya diantara salah satunya harus ada pulsa ya)
3. Sediakan charger handphonenya
Sekarang lakukan pengujian:
perhatikan gambar:

Pertama, awali saling telepon antara dua handphone dan biarkan selama sekitar 65 menitan.
kedua, perhatikan menit ke-15, telur masih dalam keadaan seperti biasa.
Ketiga, menit ke-25 telur akan mulai memanas.
Keempat, menit ke-45 telur akan sangat panas.
Kelima, menit ke-65 sajikan telur yang anda masak dengan handphone tadi dengan nasi hangat. hehehe…
Kembali ke permasalahan yang diatas, memang wanita tidak mempunyai sel sprema yang dapat dirusak oleh radiasi handphone akan tetapi ternyata radiasi lebih pintar dari kita, dia merusak hasil sperma pada tubuh wanita. Coba bayangkan, telur saja bisa masak selama 1 jam lebih sedikit, bisa anda bayangkan jika wanita hamil memegang handphone selama seharian penuh??? Bayangkan juga jika anda menelepon sampai berjam-jam, apa jadinya dengan otak kita nantinya??? Wallahualam, semuanya hanya Yang diAtas yang mengatur segalanya.
Sekian dari admin, semoga artikel ini bermanfaat bagi semuanya. Jika ada komentar, kritik atau saran silahkan tinggalkan pesan dibawah ini.
Terima kasih.



Sumber: http://akusayangibu.com/mulai-sekarang-berhentilah-taruh-handphone-di-saku-celana/

Kamis, 03 Oktober 2013

BAHAYANYA VAKSINASI ANAK SAAT INI?

Bismillahirrohmaanirrohim

Wahai ummat Islam waspadalah, inilah sebab dan alasan kenapa bayi dan anak-anak kita tidak boleh imunisasi..
Qodarulloh, setelah mencari-cari informasi, bukan hanya ilmu tentang baik atau buruk sebenarnya vaksinasi tersebut, saya justru mendapatkan lebih, tentang indikasi kuat adanya konspirasi Yahudi –lagi-lagi Yahudi Laknatulloh- di balik program vaksinasi ini. Berikut saya ringkaskan artikel “Imunisasi, Siasat Yahudi Lumpuhkan Generasi” dalam Tabloid Bekam pada edisi yang mengangkat Imunisasi sebagai topik utamanya. Semoga bermanfaat.

Apa itu Imunisasi/Vaksinasi?

Bila bibit penyakit penderita TBC, Hepatitis, Meningitis, HIV, Campak, Polio atau penyakit lainnya yang menyarang di tubuh seseorang diambil lantas diolah sedemikian rupa entah dengan istilah dilemahkan atau dilumpuhkan, kemudian bibit penyakit tersebut diperbanyak lalu disuntikkan ke tubuh Anda atau anak Anda! Apakah dengan sukarela Anda menerimanya? Aksi memasukkan bibit penyakit inilah yang akrab disebut vaksinasi atau imunisasi.

Vaksin berasal dari kata vaccinia penyebab infeksi cacar pada sapi. Secara umum, vaksin adalah suatu bahan yang diyakini dapat melindungi orang dari penyakit. Vaksinasi adalah usaha merangsang daya tahan tubuh dengan memasukkan bibit penyakit yang dilemahkan dan diproses dengan bahan lain.

Sebenarnya vaksinasi atau imunisasi tidak ada hubungannya dengan peningkatan daya tahan tubuh mengingat fungsinya hanya sebagai perangsang sejauh mana daya tahan tubuh seseorang. Padahal daya tahan tubuh/sistem imunitas perlu dilatih berulang-ulang agar selalu siap bila ada mikroorganisme masuk ke tubuh.

“Maka dari itu, yang kita dengar vaksin harus disuntikkan berkali-kali, bila tidak tubuh tidak membentuk sistem imunitasnya. Namun, pada kenyataannya walaupun telah diimunisasi, tetap saja masih banyak yang terkena penyakit. Kenapa ini bisa terjadi, kemungkinan karena kesalahan cara mem-vaksin, penyimpanannya, atau karena vaksin memang tidak efektif.” ungkap dr. Agus Rahmadi, pengasuh Klinik Sehat.

“Sebenarnya vaksin diberikan hanya untuk jaga-jaga (preventif)/belum tentu terjadi. Apakah dengan alasan jaga-jaga, kesehatan justru harus dikorbankan (dipertaruhkan)? Belum lagi vaksin banyak menggunakan unsur haram. Kenapa tidak dengan tahnik, konsumsi madu, dan habbatussauda yang telah terbukti meningkatkan sistem imunitas?”, lanjutnya.

Sejarah Vaksin

Vaksinasi sesungguhnya adalah salah satu dari sekian banyak perilaku keji Yahudi dalam usaha mereka untuk menguasai dunia dengan menyebarkan racun/kuman pembunuh kepada bangsa lain, terutama kaum muslimin.

Diungkapkan dalam Deadly Mist, vaksin dijadikan senjata biologis pemusnah massal sistematis oleh zionis dan kroninya sejak abad ke-18, diawali oleh Jenderal Jeffrer Amherst yang menghabisi suku Indian dengan menyebarkan kuman dan penyakit yang disisipkan dalam selimut dan handuk yang dibagikan ke suku tersebut.

Pada abad ke-19, serum/kuman, virus, dan materi berbahaya lainnya dijadikan senjata senjata biologi dalam peperangan atau pemusnahan massal serta penyebaran racun yang menghancurkan otak dan sistem saraf pusat.

Pada abad ke-20, vaksin modern dikelola oleh Flextner Brothers, yang penelitiannya tentang vaksinasi pada manusia didanai oleh keluarga Rockefeller yang merupakan salah satu keluarga paling berpengaruh di dunia dan bagian dari Zionis International yang memprakasai pendirian WHO dan lembaga dunia lainnya.

Singkatnya, dari data historis, vaksinasi merupakan bagian dari strategi dan misi “pengendalian” jumlah penduduk oleh Zionisme International dalam rangka menggapai misi New World OrderI. Mereka meraup dua keuntungan sekaligus, “pengendalian” jumlah penduduk dan menuai keuntungan yang besar.

Vaksin dan Kepentingan Bisnis

Boleh jadi pula niat busuk Yahudi dalam program vaksinasi ini senada dengan teori bila ingin senjata laku, maka ciptakan perang. Dalam hal ini bila ingin obat laku, ciptakan penyakit! Dengan strategi ini, Yahudi berusaha membuat bangsa lain menderita sekaligus menguras isi kantongnya dengan alasan kesehatan. Sasaran vaksin adalah negara-negara berkembang yaitu Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Yang mengambil keuntungan adalah negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

Adanya kepentingan bisnis dan siasat merusak kesehatan manusia di balik imunisasi ini semakin mudah dipahami apalagi bila dicermati bahwa imunisasi/vaksinasi merupakan perbuatan yang membingungkan dan sulit dipahami dan diterima akal sehat serta bertentangan dengan aturan Islam.

Permasalahan Vaksin Lainnya

Vaksin yang selama ini dikembangkan adalah salah satu produk farmasi, dimana kehalalan produk-produk farmasi sendiri dikritisi oleh Direktur LPPOM MUI, Lukmanul Hakim. Ketus MUI pun menegaskan bahwa hukum mengkonsumsi obat dan vaksin sama dengan hukum mengkonsumsi makanan, yakni harus halal. Bahkan boleh jadi, bila dikaji, pemberian vaksin juga bertentangan dengan aturan Badan POM RI yang tidak memberikan izin edar produk yang bersumber dari bahan tertentu.

Penggunaan bahan haram dalam pembuatan vaksin pun diakui oleh produsen vaksin terbesar di Indonesia, PT. Biofarma, seperti pernah diungkapkan oleh Drs. Iskandar, Apt., MM., ketika menjabat Direktur Perencanaan dan Pengembangan PT. Biofarma bahwa enzim tripsin babi masih digunakan dalam pembuatan vaksin, khususnya vaksin polio (IPV).

Sementara Kepala Divisi Produksi vaksin virus PT. Biofarma, Drs. Dori Ugiyadi mengatakan, “Di Biofarma, kita menggunakan sel ginjal monyet untuk produksi vaksin polio dan sel embrio ayam untuk produksi vaksin campak.”

Logika Vaksin

Bayi yang baru lahir dianugerahi oleh Allah tubuh yang sempurna, lengkap dengan sistem kekebalan tubuh. Bayi yang belum tahu apa-apa, belum mengenal selain tangis dan tawa, makan/minum, dan tidur tentu tak mampu menolak apa pun yang duimasukkan ke tubuhnya. Ayah ibu lah yang memilah dan memilih apa yang terbaik untuk ditelen atau dimasukkan ke tubuh buah hatinya.

Mungkinkah orang tua membiarkan begitu saja ragam racun ditelan dan bersarang di pembuluh darah dan organ-organ tubuh anak kesayangannya? Di sisi lain, mungkinkah racun merupakan media yang tepat untuk menjaga kesehatan? Bayangkan pula bila racun tersebut berasal dari babi, bangkai, darah dan nanah! Mungkinkah seseorang yang karena hanya ingin menguji daya tahan tubuhnya harus menelah bahan-bahan haram dan berbahaya?

Bukankah vaksinasi hanya menambah orang yang terinfeksi penyakit dan terjadinya penyebaran penyakit di daerah/negara tertentu padahal sebelumnya aman-aman saja?

Hentikan Vaksin!

Setelah merenungkan agenda busuk Yahudi serta dampak buruk vaksin, cukup banyak tenaga medis yang menghentikan dan menentang vaksinasi, baik sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

Bidan Emma, menghentikan program imunisasi di kliniknya karena tidak ingin men-dzolimi bayi dan masyarakat dengan memasukkan barang-barang haram dan membahayakan kesehatan. Menurutnya, semisal vaksin hepatitis B membuat organ-organ tubuh bayi terutama liver menjadi sangat terpaksa merespon virus-virus dan zat kimia sehingga memungkinkan terjadinya kelemahan liver untuk tahap kehidupan berikutnya.

Dr. Fadilah Supari saat menjabat sebagai Menteri Kesehatan secara terang-terangan mendesak kajian ulang mengenai kebaradaan Namru 2 (Naval Mediacal Research Unit), proyek riset militer AS dalam masalah vasin. Selain itu, dia juga menentang proyek jual beli virus flu burung dan bisnis-bisnis kotor Amerika lainnya.

Siti Fadilah, anggota Dewan Penasihat Presiden, mengamati adanya konspirasi AS dan WHO dalam mengembangkan senjata biologis virus flu burung sehingga ia dinilai “membuka kedok” WHO yang telah lebih dari 50 tahun mewajibkan virus sharing yang merugikan negara-negara miskin.

Bahkan Amerika Serikat sendiri telah mendirikan The Vaccine Adverse Events Reporting Sistem (VAERS) yang mencatat berbagai reaksi buruk yang disebabkan oleh berbagai program vaksinasi. Menurut laporan VAERS, tercatat 244.424 kasus, dengan 2.866 kasus berujung kematian sejak tahun 1999-2002.

Demikan pula masyarakat di AS, Kanada, dan beberapa negara Eropa seperti Inngris, Perancis, dan Belanda telah membatalkan beberapa program vaksinasi.

***

Demikian tulisan ringkas ini semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian. Sebenarnya masih banyak hal-hal penting lainnya yang mungkin terlewat tidak saya tuliskan di sini, seperti kisah-kisah nyata tentang anak-anak yang justru tumbuh lebih sehat tanpa imunisasi dan sebaliknya, kisah tentang tragedi yang terjadi akibat imunisasi pada bayi, dsb.

Setelah membaca informasi-informasi tersebut juga informasi dari artikel-artikel di internet, saya bertekad tidak akan memberikan vaksinsasi kepada anak-anak saya nanti, insyaAllahu Ta`ala. Semoga Allah melindungi kita semua. Allohu Ta`ala A`lam.

----------------------------------------------------------------------------------

Sumber: http://estehmanishangatnggakpakegula.blogspot.com/

Rujukan:
silakan baca buku:
1. Imunisasi, Dampak & Konspirasi; Solusi Sehat ala Rasulallah SAW, yang ditulis oleh Hj. Ummu Salamah, SH., Hajjam.
2. Deadly Mist, Upaya Amerika Merusak Kesehatan Manusia, oleh Jerry D. Gray.

Lencana Facebook

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Blog ini?

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Ada kesalahan di dalam gadget ini

MOTTO

Kami tidak malu menerima saran & kritik anda...